Langsung ke konten utama

Untuk Penggembala Domba

Aku hanya pohon kecil
seperti yang lainnya
setiap hari
yang mencintai matahari.

Kuserahkan uap-uap daunku pada matahari
agar kita bisa membuat awan-awan
menumbuhkan hutan-hutan dan kehidupan.


Pohon ini pernah tumbuh satu meter
lalu makin tinggi laju-laju
nyaris mencium langit biru kebaikan
langit menjauh, akar pohon belumlah dalam menghujam tanah
pohon melayu merubuh tak berdaya.

Akar-akar pohon belumlah mati.
Pohon tahu benar bisikan hujan padanya
begitu mesra
mengajaknya tumbuh lagi lebih tinggi.

Akh, bukan hanya itu.
Ada seorang penggembala domba
yang suka mendongakkan pandangan mata teduhnya pada pohon.
Ia bercerita soal kambium dan klorofil.
Dan yang paling indah dari itu semua,
ia ingin mengerti ilmu matahari revolusi.
Pohon menyadari ia tak harus tumbuh tinggi sekali,
namun rindang menjadi rumah bagi burung-burung dan lebah pekerja
meneduhkan domba-domba dan gembala.

Terima kasih, sang Penggembala.

Rumah Balkon,  September 5, 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAS Luncurkan “Sutet Adalah Monster Bagi Kami”

Waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Telah setengah jam berlalu sejak jadwal acara yang ditetapkan, namun belum nampak tanda-tanda acara akan segera dimulai. Kursi-kursi masih kosong-lompong, menunggu diisi. Penantian ini tidak sia-sia, nyaris setengah jam kemudian, tamu-tamu berdatangan. Di antara mereka saling mengenal satu sama lain, kentara dari wajah mereka sumringah sembari berjabat tangan. Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, mengalir cerita tak putus-putusnya. Bukan cerita biasa, tapi perkara sosial pelik yang butuh pemecahan.

Hatam Jatam: Pertambangan Harus Dihentikan!

Biasanya pantai yang juga menjadi salah satu tempat melepas penat warga kota ini marak dijajaki penjual buah dan warung kecil. Apalagi pada hari Minggu, bisa dipastikan taman di tepi pantai Talise ramai dikunjungi oleh warga dengan beragam keperluan. Ada yang hanya sekadar ngobrol, memotret, bersepatu roda, makan dan minum, jogging hingga jadi tempat berkumpul komunitas sepeda motor. Ada yang berbeda di Pantai Talise. Minggu, 29 Mei, keluar dari kebiasaan hedonis, kehendak perubahan didengungkan oleh Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng yang melakukan mimbar bebas di Talise. Pukul 16.00 Wita, puluhan massa berkumpul mengelilingi monumen Patung Kuda, membentangkan spanduk dan melakukan orasi via soundsystem. Korlap Aksi, Syarifah, berorasi bahwa hari itu adalah Hari Anti Tambang (Hatam) yang menyerukan penghentian seluruh operasi maupun rencana industri pertambangan. Menurut Jatam Nasional dalam website resminya (www.jatam.org), Hatam adalah mandat dari Pertemuan Nasional Jatam...

Belajar dari Organisasi Perjuangan Perempuan Dongi-Dongi

Empat hari berselang Hari Kartini, tepatnya 25 April adalah suatu momentum penting bagi Oppando. Organisasi Perjuangan Perempuan Dongi-Dongi ini melaksanakan Konferensi 1 yang dihadiri oleh 25 perempuan Dongi-Dongi dan belasan peserta peninjau. Oppando sudah berdiri setidaknya setahun belakangan. Jauh sebelum itu, keterlibatan kaum perempuan Dongi-Dongi dalam perjuangan mempertahankan lahan mereka telah ada sejak tahun 2001. Pelaksanaan konferensi I tahun ini merupakan tonggak sejarah dalam mempermantap perjuangan perempuan di Dongi-Dongi.